CINTAKU, TUHANKU DAN AGAMAKU

Oleh: zhusana niren kelenTerik  mentari yang begitu menyengat seakan membakar tubuh. Begitu juga dengan Juliah. Hatinya seolah-olah ikut terbakar oleh panasnya terik mentari.

Juliah ,,,,, panggil saja namaku, mungkin saat ini yang bisa aku lakukan hanyalah pasrah dan berserah kepada Tuhan.

Cinta yang membuatku tersenyum, cinta pula yang melukai hati. Cinta membuatku berada pada situasi yang serba salah. Aku seorang gadis yang berusia 25 tahun, usia dimana aku seharusnya sudah bisa menentukan sebuah pilihan.

Tepat dua tahun silam, aku menjalin cinta dengan seorang pria yang berbeda keyakinan. Pangil saja pria itu Daniel. Aku seorang Katolik sedangkan Daniel Protestan. Awalnya kami tidak pernah mempersoalkan perbedaan keyakinan. Saat itu kami sedang dibuai asmara yang membuat kami merasa bahwa mencintai dalam perbedaan adalah sesuatu yang wajar dan lumrah. Kami yakin perbedaan akan menyatukan kami dalam satu ikatan suci.

Saat itu yg kami rasa hanyalah cinta dan cinta. Prinsip kami seperti syair sebuah lagu yang berjudul “”CINTA BEDA AGAMA.”” Bagi kami, cinta akan menyatukan perbedaan. Sepertinya kisah cinta kami begitu terinspirasi oleh syair lagu”CINTA BEDA AGAMA “”.

Hari berganti hari, bulan berganti bulan, serasa setahun berlalu begitu cepat. Kini kisah cinta kami  memasuki tahun ke -4. Tanpa kami sadari kami sudah menghabiskan banyak waktu bersama. Keintiman yg kami jalin semakin sulit untuk dipisahkan bahkan maut sekalipun.

Namun apa boleh dikata. Manusia boleh merencanakan tetapi DIA SANG PEMBERI KEHIDUPANLAH yang akan menentukan.

Malam itu adalah malam yang menjadi saksi kisah cinta kami. Kisah yang pada akhirnya hanya menjadi kenangan, tersimpan indah dalam memori hati. Tak ada hujan tak ada angin Daniel tiba-tiba saja memaksa aku untuk memilih diantara dua pilihan yang sama-sama berat. Pilihan yang tidak bisa aku buat untuk saat itu.

Daniel menantapku dengan tatapan penuh harapan bahwa aku akan memutuskan untuk memilih cintanya dan memilih TUHANnya untuk ku jadikan keyakinanku.

Jul…….aku harap pilihan mu tidak mengecewakanku,,, Sejujurnya cinta kita takan pernah bisa untuk menyatukan semua perbedaan yang ada di antara kita. Maka dari itu sebaiknya kita menjadi satu keyakinan dan kepercayaan. Setelah itu kita bisa bersatu dalam ikatan cinta yang suci. Maksud saya cintailah TUHANKU  dan jadikanlah TUHAN KU sebagai pedoman dan sandaran hidupmu. Mengertilah akan hal ini juliah.

Setelah Daniel mengakiri pembicaraanya serasa pipiku baru saja ditampar, mulutku bungkam seribu bahasa dan kakiku seakan tak bisa lagi untuk bergerak walaupun hanya selangkah saja.

Daniel,,,,,,,,, begitu mudanya dirimu meminta aku untuk meninggalkan TUHAN  dan keyakinanku untuk berpaling dan mencintai Tuhan dan keyakinanmu. Bukankah dari awal kita sudah berkomitmen bahwa apapun juga kita tidak akan mengadaikan Tuhan dan keyakinan kita untuk apapun itu termasuk dalam hal cinta kita. Entah apa yg sudah merasuki pikiranmu sehingga dengan mudahnya kau membawahku pada situasi yg membuatku menjadi begitu dilema dan galau.

Butiran-butiran air mata, tak mampu lagi kubendung, jatuh hingga membasahi pipiku. Aku seakan tak bisah berfikir, mulutku seakan diam dan membungkam

,,kaki ini rasanya tak ingin melangkah lagi.

Beginikah akhir kisah kita???????????????

Haruskah berakhir dengan cara seperti ini?????????????

Dan haruskah aku memilih??????????????

Tuhan apa yang sedang kau rencanakan dari semuanya ini TUHAN????

Aku mencintaimu TUHAN dan tak sedikitpun terlintas di benakku untuk meninggalkamu.. tapi dia lelaki yang ku impikan selama ini … dia yang selalu ku mimpikan kelak menjadi ayah dari anak-anakku.

Dan mengapa harus ada pilihan serumit ini TUHAN??

Malam itu begitu banyak pertanyaan yang berkecampuk di dalam benakku……

Oh TUHAN ,,,, Engkau yang menghadirkan cinta itu di antara kami… Engkau pulahlah yg menjadikan kami merasa nyaman satu sama lain…. Kami yakin bahwa perbedaan akan menyatukan cinta kami.. tapi kini Engkau menghadirkan pilihan itu di dalam cinta kami.

Sejenak aku termenung dalam keheninganku. Ku katupkan tanganku di hadapanmu TUHAN,, Jika ini adalah rencanaMu, tunjukanlah jalan yang harus ku pilih TUHAN .

Dalam diamku, sesaat ku temukan satu jawaban. Aku harus bisa memilih satu diantara dua pilihan ini. Dan saat itu, aku memutuskan untuk memilih TUHAN DAN KEPERCAYAANKU… aku sadar, cinta yang abadi hanyalah cinta DIA SANG PEMBERIH KEHIDUPAN INI…

Aku memutuskan untuk tidak memberi tahu langsung keputusanku ini kepada Daniel. Aku kemudian menyampaikan kepadanya lewat sepucuk surat.

Dear Daniel,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,

Saat tinta hitamku menari-nari di atas kertas putih ini……………

Saat itu hatiku begitu hancur teramat perih………..

Butiran-butiran air mataku mengalir begitu saja membasahi pipi ini…..

Mulutku seakan enggan untuk mengucapkan namamu….

Nama yang bertahun-tahun lamanya selalu mendebarkan hatiku…

Daniel, kekasih jiwaku,,,,,,

Ketika ke dua bola mata kita bertatapan untuk yang pertama kalinya,,,

Saat itu kurasakan debaran-debaran cinta yang begitu indah dan mendalam

Namun kini………..semuanya serasa mati ,,,membeku di dalam relung hatiku yang terdalam

Dan bola mata indah ini hanya bisa memberikan kehampaan ,,,

Hanya bisa memberikan tatapan dingin……

Daniel,,,,,,,,,,,,,,,,,,,aku mencintaimu….namun aku tak memilih dirimu

Aku lebih mencintai DIA SANG PEMBERIH KEHIDUPAN ..

Dialah TUHANKU,,,DIA JUGALAH CINTAKU…

DIA JUNJUNGANKU…AKU TAK BISA MENGADAIKAN DIA DENGAN APAPUN TERMASUK CINTA KITA,,,,dan mungkin ini adalah jalan terbaik bagi kita. Cinta memang tentang sebuah pilihan tetapi TUHAN ku bukanlah sebuah pilihan melainkan sesuatu prinsip, pegangan serta pedoman hidupku.

Langit seakan mendung, seketika itu juga seakan ikut menyaksikan kesedihanku. Tapi apapun itu agama, keyakinan, dan Yesus adalah prinsip hidupku.

Setahun  telah berlalu. Aku dan Daniel pun menjalani hidup dengan pilihan kami masing-masing.

Satu hal penting yang membuatku mengerti akan rencana TUHAN adalah memeang kita hidup di tengah keberagaman agama dan budaya, namun ada satu hal yang pasti; perbedaan memang tetap menyatukan kita namun tidak dalam hal agama, keyakinan dan TUHAN… JANGAN PERNAH SEKALI-KALI MENGADAIKAN AGAMAMU,TUHANMU DEMI CINTAMU.

Cinta itu lebih pada kerelaan untuk melepaskan… dan satu prinsip dalam hidup yang harus anda pegang, jangan pernah gadaikan DIA demi cinta. Biarlah kesakralan cinta itu nampak dengan begitu natural tanpa harus dibuat-buat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *