AGAMA DAN CAKUPAN ILMU AGAMA

AGAMA DAN CAKUPAN ILMU AGAMA

[sebuah catatan dan sisipan untuk karya W.B. Sidjabat

yang berjudul “Penelitian Agama: Pendekatan dari Ilmu Agama”]

Oleh: Anselmus D. Atasoge

Staf Pengajar STP Reinha Larantuka

Mahasiswa Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

 

 

  1. LATAR BELAKANG MASALAH

Ilmu Agama sebagai sebuah disiplin akademis yang menjadikan pelbagai seluk-beluk agama sebagai bidang kajian dan analisisnya diakui baru dimulai pada akhir abad 19. Babak baru kemajuan di bidang agama itu ditandai dengan hadirnya karya F. Max Müller yang berjudul Introduction to the Science of Religion pada tahun 1873 di London. Pasca Müller lahirlah sejumlah ilmuwan yang mengkaji bidang keagamaan. Mereka berasal dari berbagai belahan dunia, tidak hanya dari kalangan Barat melainkan telah meluas ke pelbagai benua seperti Eropa, Amerika, Afrika dan Asia termasuk Indonesia. Para sarjana agama itu melakukan kajian tentang agama, baik tentang agama yang dianutinya maupun tentang agama lain.

Dari Belanda muncul sejumlah sarjana Ilmu Agama di antaranya Cornelis P. Tiele (1830-1902), P.D. Chantipie de la Saussaye (1848-1920), dan G.van der Leeuw (1890-1950). Dari Inggris, sejumlah nama bisa disebutkan, seperti E.B. Taylor (1830-1917 dan George Frazer (1854-1941). Dari Perancis, misalnya Lucien Levy Bruhl (1857-1939), Louis Massignon (1958) dan Vincent Monteil. Dari Amerika, di antaranya  William James (1842-1910) dan Walter Kaufmann. Dari Eropa Timur antara lain seorang Polandia yang bernama Bronislaw Malinoswski (1884-1942) dan seorang Rumania yang bernama Mircea Eliade. Dari Afrika misalnya John Mbiti. Dari Jepang, J. Takakusu dan D.T Suzuki. Dari India, S. Radhakrishnan, Moses D. Gnanaprakasam, P.D. Devanadan dan S.T. Samartha.  Ketiga yang terakhir dari kalangan Kristen India. Juga seorang Kristen dari Siria, yakni Philip. K. Hitti. Dari kalangan Muslim muncul sejumlah sarjana agama seperti Jamaluddin Al-Afghani, Muhammad Abduh, Rashid Rida, Muhammad Iqbal, Ab’ul A’la Maudoodi, Albert Hourani dan Majid Khadduri. Dari kalangan Muslim Indonesia, di antaranya, Prof. Dr. Husein Djajadiningrat, Prof. Dr. Poerbatjaraka, Prof. Dr. HAMKA, Prof. Dr. Rasjidi, Prof. Dr. Mukti Ali, Prof. Dr. Harsya W. Bachtiar, Prof. Dr. Harun Nasution. Dari kalangan Hindu, G. Pudja MA dan Tjokorda Rai Sudharta MA. Dari kalangan Kristen, Prof. Dr. Ph. O.L. Tobing, Prof. Dr. W.B. Sidjabat, Prof. Dr. Harun Hadiwiyono, Dr. Jansen Pardede, dan Dr. Victor Tanja.

Setiap peneliti ini menyoroti agama dari pelbagai sudut pandang dengan metodenya masing-masing. William James pada tahun 1902 menulis tentang bermacam-macam pengalaman agama. Walter Kaufmann ada tahun 1976 menerbitkan karya tentang empat dimensi agama (eksistensi, estetis, sejarah, perbandingan). Takakusu dan Suzuki banyak menulis tentang Budhisme dan Zen Budhisme. Gnanaprakasam menulis tentang kebenaran agama dan relasi antar agama. Devanadan dan Samartha menulis karya mereka dalam rangka dialog antaragama. Albert Hourani menulis tentang pemikiran Arab dan zaman liberal. Majid Khadduri peperangan dan perdamaian dalam hukum Islam. Beberapa peneliti dari luar Indonesia yang meneliti tentang agama di Indonesia, di antaranya: Piet Zoetmulder menulis tentang agama di Indonesia, N.J. Geise yang menulis tentang agama Islam di Badui, Harry Parkin menulis tentang agama orang Batak, Waldemar Stôhr menulis tentang ide ketuhanan di kalangan suku Dayak Ngaju di Kalimantan Selatan dan masih banyak lagi peneliti dari luar dan dari Indonesia sendiri yang meneliti tentang agama dan budaya yang berbeda dengan agama yang dianutinya.

Dengan memperhatikan sejumlah peneliti agama dan bidang kajiannya di atas dapatlah dikatakan bahwa sejalan dengan sifat universalnya gejalah agama, universal pula perhatian dan partisipasi para pemikir dan berbagai bangsa di dunia dalam merumuskan agama yang dianut atau dikenal oleh manusia di muka bumi ini. Para sarjana ini saling mengisi dan saling melengkapi meskipun berasal dari zaman yang berbeda, dari tempat yang berbeda, dari agama yang berbeda dan dari belahan dunia yang berbeda dengan fasilitas yang berbeda. Keingin-tahuan dan perhatian serta keprihatinan dalam Ilmu Agama itu terbuka untuk semua pihak, tidak bergantung hanya pada latar belakang agama dan budaya para sarjana yang menelitinya.

Sudah jelas bahwa yang diteliti oleh para sarjana itu adalah agama dan fenomena-fenomena yang berkaitan dengan agama. Namun, sesungguhnya apakah agama itu atau apakah yang dimaksudkan dengan agama seperti yang diteliti oleh para ilmuwan itu? Tambahan pula, dengan cara bagaimanakah atau metode apakah yang digunakan untuk meneliti agama berdasarkan rumusan tentang apa itu agama?

Dalam kenyataannya, tidaklah mudah merumuskan pengertian tentang agama ke dalam satu rumusan baku yang bisa diterima secara umum di dunia ini apalagi ketika kita berhadapan dengan kriteria yang digunakan untuk menentukan seperti apakah agama itu. Hal ini berlandaskan pada kenyataan bahwa tidak semua agama di dunia ini memiliki satu pandangan yang sama berkaitan dengan sejumlah hal yang termaktub dalam sebuah agama seperti kepemilikan atas kitab suci yang resmi dan sah, karakteristik penganutnya, bersumber pada wahyu, mendasarkan diri pada ajaran seorang nabi atau rasul dan lain sebagainya.

Namun, hal itu tidak menjadi alasan penghalang untuk usaha mencoba merumuskan arti agama itu. Karenanya, muncullah perumusan-perumusan tentang arti agama oleh para Sarjana Ilmu Agama meski sifatnya tentatif mengingat kajian-kajian dan penelitian tentang agama masih sangat terbatas. Salah satu di antaranya adalah perumusan dari seorang peneliti asal Indonesia, W.B. Sidjabat yang memandang agama sebagai way of life (cara hidup) yang mengatur kehidupan manusia agar tidak jatuh dalam kekacauan. Melalui makalah ini penulis memperkenalkan pemikiran W. B. Sidjabat tersebut yang dipaparkannya melalui tulisannya berjudul “Penelitian Agama: Pendekatan dari Ilmu Agama” mencoba menguraikan hal itu.

 

  1. RUMUSAN MASALAH

Bagaimanakah pemikiran W.B Sidjabat tentang agama, metodologi penelitian agama serta cakupan-cakupan penelitian dalam bidang agama?

 

  1. KAJIAN PUSTAKA

Tulisan W.B. Sidjabat berisikan tentang pengertian agama, cakupan penelitian Ilmu Agama, tujuan penelitian agama serta fungsi dan kegunaan Ilmu Agama. Kajiannya ini dilakukan dengan menggunakan beberapa sumber tertulis di antaranya E.G.I. Tsing, A Record of the Buddhist Relligion as Practised in India and the Malay Archipelago (Oxford, 1898); F. Max Müller, Introduction to the Science of Religion (London, 1873), Joh. Warneck, Die Religion der Batak (Göttingen, 1909); Lecture on the Science of Language, vol. 1; John S. Mbiti, African Religions and Philosophy (New York, 1970); Th. Müller-Krüger, Sejarah Gereja di Indonesia (Jakarta, 1959); H.C. Klienkert, Nieuw Nederlandsch (Leiden, 1926); H.A.R. Gibb dan J.H. Kraemers, Shorter Encyclopaedia of Islam (Leiden, 1953); Mircea Eliade, Australian Religions (Ithaca and London, 1973); James G. Frazer, The Golden Bough (London, 1933); Frederick J. Streng, et.al, Ways of Being Religious (N.J, 1973); Hendrik Kraemer, La Foi Chretienne et Les Religious non Chretiennes (Neuchatel, 1956); C. Snouck Hurgronje, Het Mekkaansche Feest (Leiden: 1880), The Achenese (Leiden, 1906), Verspreide Geschriften (Bonn & Leipzig, 1923), Nederland en de Islam (Leiden, 1911); Zainal Arifin Abbas, Perkembangan Fikiran Terhadap Agama (Medan, 1978); E.J. Jurji, The Great Relligions of the Modern World (Princeton, 1947), The Middle East: Its Religion and Culture (Philadelpia, 1956); Ph. K. Hitti, History of the Arabs (New York, 1958); Tk. H. Ismail Jacub, Orientalisme dan Orientalisten (Surabaya, 1971); F. Ukur dan F.L. Cooley, Jerih dan Juang (Jakarta, 1979); Ph. van Akkeren, Een Gedrocht en toch de Volmaakte Mens (Gravenhage, 1951); Waldemar Stöhr, Piet Zoetmulder, Die Religionen Indonesians (Stutgart, 1965), Die Alt-Indonesischen Religionen (Leiden, 1976); Lothar Schreiner, Adat und Evangelium (Gütersloh, 1972).

 

  1. METODOLOGI

Metodologi yang digunakan dalam menyusun makalah ini adalah studi pustaka. Pustaka rujukan utama adalah karya W.B. Sidjabat yang berjudul “Penelitian Agama: Pendekatan dari Ilmu Agama” yang termuat dalam buku Penelitian Agama. Masalah dan Pemikiran (Sinar Harapan: Jakarta, 1982). Demikian pula yang dilakukan oleh W.B. Sidjabat. Dari hasil bacaan penulis, penulis melihat bahwa W.B. Sidjabat telah melakukan penelusuran terhadap sejumlah pustaka karya para peneliti agama dari luar negeri yang namanya telah disebutkan dalam makalah ini juga termasuk karya W.B. Sidjabat sendiri yang umumnya dihasilkan dari penelitian-penelitian lapangan.

 

  1. RUANG LINGKUP PENELITIAN (PEMBAHASAN)

5.1. Pemahaman Tentang Agama

Kata “agama” berasal dari bahasa Sanskerta, āgama yang berarti “tradisi”.[1] Menurut Zainal Arifin Abbas dalam bukunya Perkembangan Pikiran terhadap Agama, seperti yang dikutip oleh W. B. Sidjabat, arti agama adalah “tidak kacau”. A berarti tidak dan gama berarti kacau.[2] W.J.S. Poewadarminta, agama berarti segenap kepercayaan (kepada Tuhan, Dewa dan lain sebagainya) serta ajaran kebaktian dan kewajiban-kewajiban yang bertalian dengan kepercayaan itu.[3]

W.B. Sidjabat merumuskan agama sebagai way of life (cara hidup) yang mengatur kehidupan manusia agar tidak jatuh dalam kekacauan.[4] Agama membawa manusia kepada cara hidup yang baik dalam relasinya dengan Tuhan, sesama manusia yang lain dan juga dengan alam lingkungan kehidupannya. Atau, dengan kata lain agama membentuk dan memelihara integritas pribadi seseorang dalam relasinya dengan Tuhan dan sesamanya.

Pengertian ini, menurut Sidjabat, mengacu pada makna dan fungsi agama yang bisa ditemukan dalam kata yang berpadanan dengan kata agama dalam pelbagai bahasa.[5] Kata religion (Inggris), Religion (Jerman), religie (Belanda), religion (Perancis), religion (Spanyol) berasal dari bahasa Latin religio yang berakar pada kata Latin religare. Kata kerja religare berarti mengikat. Dalam konteks ini, arti religio, yang juga mencakup way of life dan peraturan-peraturan tentang kebaktian dan kewajiban-kewajibannya, merupakan alat untuk mengikat dan mengutuhkan diri seseorang atau sekelompok orang dalam hubungannya dengan Tuhan, sesama manusia dan alam semesta yang mengelilinginya. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa fungsi agama (religio) menurut asal katanya ini adalah merekatkan atau menyatukan semua unsur dengan tujuan untuk memelihara keutuhan diri manusia, diri orang per orang atau diri sekelompok orang dalam hubungannya dengan Tuhan, dengan sesama manusia dan dengan alam semesta yang mengitarinya.

Sidjabat memperdalam pengertian agama ini dengan menyebut juga jangkauan arti dan makna dari kata Din dalam bahasa Arab.[6] Menurutnya, Din dapat juga dipahami sebagai lembaga ilahi (wad’ilahi) yang memimpin manusia untuk mencapai keselamatan di dunia dan di akhirat. Berdasarkan aras pemikiran ini, Din hadir sebagai alat yang mengemban fungsi mengatur, mengantar dan memelihara keutuhan diri manusia dalam hubungannya dengan Tuhan, sesama dan alam. Namun, dalam pengertian Din, ada satu penekanan khusus yakni bahwa kewajiban-kewajiban yang diharuskan kepada manusia ditentukan oleh Allah bagi manusia yang berakal (ashab al-ukul) dan manusia berkewajiban untuk melaksanakannya.

Menurut pemikiran Sidjabat, dalam arti yang paling mendalam agama menjadi hal yang sangat pribadi dan berkaitan dengan intimitas antara seseorang dengan Sang Khalik. Namun, yang bersifat pribadi dan intim itu diwujudkan serentak dalam kehidupan pribadi dan kolektif. Dengan kata lain, agama itu berdimensi individual sekaligus serentak sosial.  Relasi pribadi dan sosial yang terlahir dari agama itu menampakkan wujudnya dalam tiga hal atau perbuatan atau tindakan yakni: ucapan syukur kepada Tuhan dan pemuliaan kepada Tuhan di mana keduanya itu dipandang sebagai sebuah pelayanan baik kepada Tuhan maupun kepada sesama manusia.

Akhirnya, dari uraian singkat ini Sidjabat berpendapat bahwa yang dimaksudkan dengan agama ialah keprihatinan yang maha luhur dari manusia, yang terungkap selaku jawabannya terhadap panggilan dari Yang Maha Kuasa dan Maha Kekal dan keprihatinan ini diungkapkan dalam hidup manusia (baik secara pribadi maupun berkelompok) terhadap Tuhan, terhadap manusia dan alam semesta dan isinya.[7] Sidjabat mengakui bahwa rumusan ini masih bersifat tentatif. Namun, dari rumusan ini dapatlah ditarik tiga unsur yang berkaitan dengan agama. Pertama, agama merupakan jawaban manusia terhadap panggilan Allah. Kedua, panggilan itu diwujud-nyatakan dalam hidup manusia baik secara pribadi maupun berkelompok. Ketiga, sasaran perwujudan itu ialah kepada tiga unsur yakni Tuhan, manusia dan alam.

Akan tetapi, harus diakui pula bahwa dalam perjalanan sejarah terdapat juga agama dan praktek agama yang telah menyimpang dari jati diri keagamaan seperti yang dirumuskan di atas. Terkait hal ini, agama Islam dengan tegas membedakan antara agama yang benar (Din al hakk) dan agama yang tidak asli lagi (Din al-mubaddal). Menurut Sidjabat, yang tergolong dalam Din al-mubaddal adalah agama atau agama-agama yang telah beralih dan berubah menjadi ketidakpercayaan, unbelief atau Unglaube. Adanya Din al-mubaddal itu sendiri disebabkan oleh adanya proses degenerasi (pemburukan) akibat faktor-faktor manusiawi dari para penganut agama tersebut terutama karena pengaruh magi, mistik yang amat subjektifistik, takhyul atau sensualitas.[8]

Perumusan tentang apa itu agama masih menyisakan sejumlah persoalan ketika kita memperhatikan gejalah perubahan-perubahan agama tersebut terutama berkaitan dengan praktek-praktek sensualitas.[9] Corak agama yang satu ini disinyalir oleh  Sidjabat sebagai yang masih mendapat pasaran yang cukup luas dewasa ini terutama di kota-kota besar yang tingkat frustrasi manusianya cukup tinggi. Praktek agama sensualitas dipandang sebagai yang bisa memberikan ketenangan batin meskipun dalam prakteknya digunakan pula sarana-sarana negatif seperti narkotika dan minuman keras beralkohol tinggi sebagai unsur yang membantu mencapai ketenangan tersebut. Agama sensualitas ini mengabaikan apa yang ada seperti dalam ‘agama yang benar’ seperti adanya nabi atau rasul dan kitab suci. Perumusan tentang apa itu agama juga masih menyisahkan persoalan jika dikaitkan dengan fenomena-fenomena agama-agama rakyat (local religion), misalnya yang dikenal di Indonesia antara lain agama Kaharingan[10] dan Sunda Wiwitan.[11]

Jika dipersyaratkan bahwa sebuah penelitian agama terfokus pada agama yang memiliki ciri seperti kepemilikkannya atas sebuah kitab suci dan mempunyai nabi atau rasul, maka prasyarat itu, hemat Sidjabat, sulit diterapkan bagi agama-agama lain selain agama Abrahamik (Yahudi, Kristen dan Islam). Hindu dan Budha, misalnya memiliki banyak tulisan-tulisan  sucinya sehingga sulit ditentukan mana kitab sucinya. Prasyarat tersebut makin sulit lagi untuk diterapkan pada agama-agama dari Australia, Afrika, Amerika Latin dan pelbagai aliran kepercayaan dan kebatinan yang pada umumnya tidak memiliki kitab sucinya.[12] Dalam catatan sejarah, penelitian agama tidak hanya terbatas pada persyaratan-persyaratan tersebut.

Sampai pada pembahasan ini dapatlah dikatakan bahwa rumusan tentang agama terbentang luas. Rumusan itu mencakupi pelbagai hal yang berkaitan dengan aspek-aspek keagamaan baik tentang corak-ciri agama itu sendiri maupun fenomena-fenomena baru berkaitan perubahan-perubahan agama dan model-model baru cara beragama manusia-manusia zaman sekarang. Serentak itu pula, Ilmu Agama pun mengkaji pelbagai aspek itu.

 

5.2. Cakupan Ilmu Agama

Menurut Sidjabat, bidang cakupan atau scope dari Ilmu Agama beraneka-ragam. Keanekaragaman cakupan itu bergantung pada rumusan-rumusan kita tentang agama. Dari uraian singkat tentang pengertian dan corak agama tersebut, hemat saya, dapatlah ditarik beberapa point terkait dengan cakupan-cakupan Ilmu Agama.

Pertama, way of life para penganut agama seperti ritual-ritual keagamaan yang berkaitan dengan relasi dengan Tuhan dan pola relasi antarpenganut agama dalam satu agama maupun dengan penganut agama lain serta relasi para penganut dengan alam semestanya.

Kedua, seperangkat aturan yang berisikan kewajiban-kewajiban yang mengikat para penganut agama.

Ketiga, corak-ciri agama terutama berkaitan dengan kitab suci, tokoh utama (nabi dan rasul) dan umat atau para penganutnya.

Keempat, perubahan-perubahan agama dan gejalah-gejalah yang menyertainya serta praktek-praktek yang berkaitan dengan perubahan-perubahan itu.

Sambil memperhatikan gagasan Sidjabat, baiklah juga ditambahkan pemikiran Middleton tentang penelitian agama dan penelitian keagamaan.  Menurut Middleton seperti yang dikutip oleh Dr. H.M. Atho Mudzhar, penelitian agama (research on religion) lebih menekankan pada materi agama dengan sasarannya pada tiga elemen pokok dalam agama yaitu ritus, mitos dan magik. Sementara itu, penelitian keagamaan (religious research) lebih menekankan pada agama sebagai sistem atau sistem keagamaan.[13] Jika kita berpatokan pada pembedaan yang dilakukan oleh Middleton maka dapatlah dikatakan bahwa sasaran dari penelitian agama adalah agama sebagai doktrin. Sementara itu, sasaran penelitian keagamaan adalah agama sebagai gejalah sosial.

 

5.3. Metodologi Ilmu Agama

Secara khusus untuk penelitian agama, Sidjabat menganjurkan sebuah metode khusus yang disebutnya dengan nama metode simpatetik ilmiah.[14] Metode ini dianjurkan sebagai jalan untuk menepis adanya penelitian-penelitian agama dan keagamaan yang berusaha untuk mencari tahu kelemahan-kelemahan ajaran dan praktek-praktek agama lain. Menurut Sidjabat, metode simpatetik ilmiah mengandaikan sekaligus mengungkapkan adanya kematangan iman dari pihak peneliti. Metode simpatetik ilmiah juga menunjukkan adanya sikap keterbukaan dan simpatik terhadap agama lain yang diteliti. Metode simpatetik ilmiah ini juga sekaligus menepis metode polemis apologetis yang cenderung memperbesar kekurangan agama lain dan menutup-nutupi kelemahan agama sendiri.

Sekedar tambahan pada pemikiran Sidjabat, menurut Mudzhar, pembedaan antara penelitian agama dan penelitian keagamaan berdampak pada jenis metode penelitiannya. Meski demikian, diakuinya bahwa masih terdapat perbedaan pendapat di kalangan para pemikir dan peneliti terkait metode penelitian agama dan penelitian keagamaan. Ada yang berpendapat bahwa perlu adanya metode penelitian agama dan keagamaan. Namun, ada juga yang berpendapat bahwa tidak perlu ada metode penelitian agama dan keagamaan. Menurut pendapat yang terakhir ini, jika seseorang hendak melakukan penelitian agama, peneliti itu cukup menggunakan metodologi penelitian sosial yang telah ada dan digunakan secara umum.

Mudzhar berpendapat bahwa untuk menjembatani dua perbedaan pendapat ini secara proporsional maka kita mesti bertolak dari perbedaan pengertian antara penelitian agama dan penelitian keagamaan.[15] Penelitian agama yang sasarannya adalah agama sebagai doktrin hendaknya membutuhkan metodologi tersendiri. Dalam agama Islam, upaya perintisan terhadap metodologi baru untuk penelitian agama telah dimulai. Misalnya, ilmu Ushul Fikih sebagai metode untuk mengistinbatkan hukum dalam agama Islam dan ilmu Musthalah Hadits sebagai metode untuk menilai akurasi dan kekuatan sabda-sabda Nabi Muhammad merupakan bukti adanya usaha untuk mengembangkan metodologi penelitian tersendiri untuk penelitian agama. Sementara itu, untuk penelitian keagamaan yang sasarannya adalah agama sebagai gejalah sosial, menurut Mudzhar, kita bisa meminjam metodologi penelitian sosial yang telah ada.

 

5.4. Tujuan Penelitian Agama

Menurut Sidjabat, secara umum tujuan dilakukannya penelitian agama dalam rangka Ilmu Agama terbagi atas dua bagian yaitu tujuan-tujuan positif dan tujuan-tujuan negatif.[16] Pada bagian ini akan dijelaskan secara singkat dua bagian tujuan penelitian agama itu.

 

5.4.1. Tujuan Positif

Ada empat tujuan positif yaitu membina hubungan yang akrab secara pribadi; memperdalam pengetahuan tentang apa yang dianut oleh umat beragama yang lain; membina etika religius di kalangan umat beragama agar senantiasa saling memberikan respek; merangsang kerja sama umat beragama secara praktis. Keempat tujuan ini saling berhubungan satu sama lain.

Pertama, membina hubungan yang akrab secara pribadi. Hubungan yang akrab antara pribadi-pribadi beragama menjadi syarat terciptanya dialog antar umat beragama. Kedua, memperdalam pengetahuan tentang apa yang dianut oeh umat beragama yang lain. Pengetahuan itu antara lain tentang sumber-sumber agama (Kitab Suci dan tradisi-tradisi), dasar pemikiran, ketentuan, praktek dan tata kebaktian agama. Dengan memiliki pengetahuan tentang hal-hal seperti ini upaya membina hubungan yang akrab secara pribadi dengan sesama yang beragama lain dapat berjalan dengan baik. Pengetahuan ini bisa menambah horizon keagamaan kita serentak mengeluarkan kita dari jebakan dan dorongan fanatisme atau tradisionalisme.[17] Ketiga, membina etika religius di kalangan umat beragama agar senantiasa saling memberikan respek. Hal ini merupakan hasil nyata dari dua hal sebelumnya. Di dalamnya, setiap orang hadir sebagai saudara semartabat dan sederajat. Dengannya, tak ada yang menjadi superior dan tak ada yang inferior. Keempat,  merangsang kerja sama umat beragama secara praktis. Kerja sama ini lahir dari adanya pengetahuan yang benar tentang agama lain, terbinanya hubungan pribadi dengan yang beragama lain dan respek antara satu dengan yang lain karena telah duduk sama rendah dan berdiri sama tinggi.

 

5.4.2. Tujuan Negatif

Di samping tujuan positif, tujuan penelitian agama itu tidaklah dimaksudkan untuk tiga hal negatif berikut ini[18]: Pertama, manipulasi politik, ekonomi, sosial, kebudayaan dan militer. Pengalaman masa lalu telah membuktikan hal ini.[19] Penelitian-penelitian agama masa kini hendaklah tidak bermaksud untuk menciptakan tekanan politik, ekonomi, sosial dan budaya antara satu agama terhadap agama yang lain. Kedua, dominasi satu agama atas agama yang lain. Penelitian agama tidak dimaksudkan untuk hal semacam itu. Penelitian agama diselenggarakan sebagai bagian dari proses mempelajari agama lain agar kita lebih mantap berdialog dan berkomunikasi dengan sesama yang berbeda agama.[20] Ketiga, penelitian agama tidak bermaksud mencari-cari kelemahan agama-agama yang lain. Jika hal itu terjadi maka impian tentang dialog dan cita-cita untuk agama-agama untuk koeksistensi dan proeksistensi tidak dapat tercapai karena antara satu dengan yang lain telah mulai saling serang berangkat dari kelemahan-kelemahan yang ditemui tersebut.

5.5. Fungsi dan Kegunaan Ilmu-Ilmu Agama

Menurut Sidjabat, dalam tataran praktis Ilmu Agama mengemban lima fungsi dan kegunaan sebagai berikut:[21] Pertama, membina kesadaran beragama. Melalui Ilmu Agama, para penganut agama dihantar menuju pengetahuan yang lebih mendalam tentang agamanya dan agama sesama yang lain. Kedua, memelopori sikap ilmiah (terbuka) terhadap kebenaran. Melalui Ilmu Agama, para penganut agama dapat sampai pada sikap terbuka secara ilmiah terhadap kebenaran-kebenaran yang diyakini oleh sesama yang beragama lain. Ketiga, memupuk etika kerja, penghargaan waktu yang menunjang lancarnya jalannya pembangunan bangsa. Dengan memiliki pengetahuan tentang agama lain, seorang penganut agama turut terlibat menunjang jalannya proses pembangunan bangsa sebab dia tidak akan terjebak membuang waktu untuk memperbesar kelemahan orang lain dan memperkecil kebenaran yang lain tersebut. Keempat, menjaga keseimbangan antara yang rohani dan yang jasmani. Ilmu Agama menambah basis kerohanian para penganut agama sembari tidak membuat para penganutnya terasing atau mengasingkan diri dari situasi yang hidup dan bergerak di tengah masyarakat. Kelima, membantu pemerintah dalam pengadaan gambaran yang lebih lengkap tentang konstelasi agama-agama dalam masyarakat. Di titik inilah hasil penelitian ilmiah para sarjana Ilmu Agama dapat menyumbangkan data-data penelitiannya untuk Pemerintah sebagai jalan untuk merancang kebijakan dan program untuk menghindari tindakan-tindakan penganut agama yang menimbulkan ekses destruktif.

 

  1. SUMBANGAN BAGI ILMU KEAGAMAAN

Karya W.B. Sidjabat yang merupakan rujukan utama dalam makalah ini memberikan beberapa sumbangan pemikiran sebagai berikut:

Pertama, metodologi simpatetik ilmiah merupakan sebuah anjuran yang baik bagi para peneliti dalam bidang agama dan keagamaan. Metode ini merupakan sebuah jalan tengah untuk menepis adanya kecurigaan dari pihak agama lain terhadap peneliti agama dengan latar belakang agama yang lain sekaligus menghindari adanya radikalisasi dan pembelaan terhadap agama peneliti sendiri.

Kedua, bidang cakupan penelitian agama itu tidak hanya terbatas pada isi  agama (Kitab Suci, ajaran-ajaran, praktek-praktek agama) tetapi juga menjangkau pula tentang perubahan-perubahan agama dan gejalah-gejalah yang menyertainya serta praktek-praktek yang berkaitan dengan perubahan-perubahan itu.

  1. KESIMPULAN

Dari seluruh uraian di atas, penulis menarik beberapa kesimpulan sebagai berikut: Pertama, agama dan fenomena yang berkaitan dengannya telah menjadi perhatian para pemikir yang tersebar di seluruh dunia. Kedua, memahami dengan baik apa itu hakekat agama amatlah membantu para peneliti dalam melakukan kajian tentang agama. Ketiga, penelitian-penelitian sarjana Ilmu Agama di masa silam terlepas dari tujuannya, entah positif entah negatif, telah berkontribusi terhadap ilmu pengetahuan dan perkembangan agama masa kini. Peneliti dengan latar belakang agama tertentu dengan perspektif tertentu telah memperkaya khazanah Ilmu Agama. Keempat, hasil-hasil penelitian tentang agama dengan metode simpatetik ilmiah diharapkan menjadi sumbangan berharga dalam usaha mempersiapkan kondisi yang baik untuk terciptanya koeksistensi dan proeksistensi bagi para penganut agama, tidak sekedar ada bersama melainkan bergerak lebih jauh dari itu yakni hidup bersama secara baik.

 

  1. DAFTAR PUSTAKA

 

  1. Buku dan Kamus:

Clark, Kelly James (ed). Abraham’s Children. Liberty and Tolerance in an Age of Religious Conflict (Yale University Press: London, 2012).

Mudzhar,H.M. Atho. Pendekatan Studi Islam Dalam Teori dan Praktek (Pustaka Pelajar: Yogyakarta, 1998).

Poerwadarminta, W.J.S. Kamus Umum Bahasa Indonesia. Cetakan Kelima (Perum Penerbitan dan Percetakan Balai Pustaka: Jakarta, 1976).

Sumardi, Mulyanto, dkk. Penelitian Agama. Masalah dan Pemikiran (Sinar Harapan: Jakarta, 1982).

Sugiyono. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R & D (Alfabeta: Bandung, 2012).

 

  1. Internet:

Https://id.wikipedia.org/wiki/Agama.

Http://en.wikipedia.org/wiki/Kaharingan.

Https://id.wikipedia.org/wiki/Sunda_Wiwitan.

 

Endnote:

[1] Menurut kamus Sanskerta-Inggris Monier-Williams (cetakan pertama tahun 1899) pada entri āgama: …a traditional doctrine or precept, collection of such doctrines, sacred work […]; anything handed down and fixed by tradition (as the reading of a text or a record, title deed, &c.). Https://id.wikipedia.org/wiki/Agama. Diunduh pada tanggal 9 Oktober 2017.

[2] W.B. Sidjabat, “Penelitian Agama: Pendekatan dari Ilmu Agama” dalam Mulyanto Sumardi, Penelitian Agama. Masalah dan Pemikiran (Sinar Harapan: Jakarta, 1982), hal. 75.

[3] W.J.S. Poerwadarminta, Kamus Umum Bahasa Indonesia. Cetakan Kelima, (Jakarta: Perum Penerbitan dan Percetakan Balai Pustaka, 1976).

[4] Ibid., hal. 76.

[5] Ibid. Menurut filolog Max Müller, akar kata bahasa Inggris “religion”, yang dalam bahasa Latin religio, awalnya digunakan untuk yang berarti hanya “takut akan Tuhan atau dewa-dewa, merenungkan hati-hati tentang hal-hal ilahi, kesalehan”. Https://id.wikipedia.org/wiki/Agama. Diunduh pada tanggal 9 Oktober 2017.

[6] Sidjabat, …, hal. 77.

[7] Ibid., hal. 78.

[8] Ibid., hal. 79.

[9] Ibid.

[10] Kaharingan adalah agama rakyat yang dianut oleh banyak orang Dayak di Kalimantan, Indonesia. Kata Kaharingan berarti kehidupan, dan sistem kepercayaan ini mencakup konsep keilahian tertinggi – walaupun ini mungkin merupakan hasil kebutuhan untuk menyesuaikan diri dengan gagasan “Satu Tuhan Tertinggi” (Ketuhanan Yang Maha Esa), yang merupakan prinsip pertama dari ideologi negara indonesia Pancasila. Pengaruh Hindu-Jawa dapat dilihat dalam agama ini, dan pemerintah Indonesia memandangnya sebagai bentuk Hinduisme. Perayaan utama Kaharingan disebut dengan nama Tiwah, yang berlangsung selama tiga puluh hari, dan melibatkan pengorbanan banyak hewan seperti kerbau, sapi, babi, dan ayam sebagai persembahan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Http://en.wikipedia.org/wiki/Kaharingan. Diunduh pada tanggal 8 Oktober 2017.

[11] Sunda Wiwitan adalah agama atau kepercayaan pemujaan terhadap kekuatan alam dan arwah leluhur (animisme dan dinamisme) yang dianut oleh masyarakat tradisional Sunda. Akan tetapi ada sementara pihak yang berpendapat bahwa Agama Sunda Wiwitan juga memiliki unsur monoteisme purba, yaitu di atas para dewata dan hyang dalam pantheonnya terdapat dewa tunggal tertinggi maha kuasa yang tak berwujud yang disebut Sang Hyang Kersa yang disamakan dengan Tuhan Yang Maha Esa. Https://id.wikipedia.org/wiki/Sunda Wiwitan. Diunduh pada tanggal 8 Oktober 2017.

[12] Sidjabat, …, hal. 81.

[13] Dr. H.M. Atho Mudzhar, Pendekatan Studi Islam Dalam Teori dan Praktek (Pustaka Pelajar: Yogyakarta, 1998), hal. 35.

[14] Sidjabat, …, hal. 92.

[15] Atho Mudzhar, hal. 36-37.

[16] Sidjabat, …, hal. 92.

[17] Sekitar tahun 2012 yang lalu Kelly James Clark dari Universitas Yale mengundang tokoh-tokoh Muslim, Kristen dan Yahudi yang terkemuka untuk membahas kebebasan beragama dan toleransi dengan perspektif masing-masing tokoh itu dari agama-agamanya sendiri. Diskusi dan pembahasan mereka berangkat dari Tulisan Suci, refleksi teologis dan tradisi ketiga agama tersebut. Bahan-bahan diskusi tersebut kemudian diterbitkan dalam buku Abraham’s Children. Liberty and Tolerance in an Age of Religious Conflict (Yale University Press, London, 2012) yang dieditori oleh Kelly James Clark. Hemat penulis, usaha Clark ini merupakan salah satu contoh upaya menambah pengetahuan tentang agama-agama sebagai jalan untuk membina hubungan yang akrab secara pribadi dengan sesama yang beragama lain.

[18] Ibid., hal. 85-93.

[19] Sidjabat mencatat bahwa hasil penelitian Ilmu Agama di Dunia Barat di masa lalu yang dilakukan dalam hubungan dengan ilmu pengetahuan lain (misalnya antropologi budaya, etnologi, bahasa, sejarah, arkeologi, militer) digunakan sebagai masukan bagi pihak penjajah untuk mempertahankan dan meningkatakan kekuasaannya di tanah jajahan. Pihak penjajah menyediakan dana dan fasilitas dan universitas-universitas (Sorbonne di Perancis, Oxford dan Cambridge di Inggris, Leiden dan Utrecht di Belanda) dan lembaga penelitian mengembangkan penelitian juga demi tujuan negara penjajah itu. Demikian pun dengan penelitinya. Ada peneliti yang merupakan bekas anggota militer di daerah jajahan, misalnya Prof. Dr. C. Snouck Hurgronje. Beliau adalah seorang guru besar di Leuven dan seorang mantan militer Belanda yang bertugas di Aceh dan menghasilkan karya tentang Aceh sebanyak 6 jilid dalam bukunya The Achenese. Karya ini dipandang sebagai salah satu masukan bagi colonial Belanda dalam rangka melanggengkan penjajahan Belanda di Indonesia.

[20] Tentang hal ini beberapa peneliti agama yang meneliti tentang Indonesia bisa disebutkan. Di antaranya Dr. N. Adriani dan Dr. Alb. C. Kruyt yang meneliti di daerah Gorontalo dan Poso di Sulawesi Tengah. Lainnya, Gotfried Simon yang meneliti tentang agama Islam, Dr. John Warneck yang meneliti dunia Batak di Sumatera Utara dan Hendrik Kraemer seorang islamolog yang meneliti aliran kepercayaan atau kebatinan di Jawa. Tokoh lainnya adalah Dr. A. Th. Van Leeuwen yang adalah seorang islamolog dan Dr. Ph. Van Akkeren yang meneliti tentang budaya Jawa dan sejarah Gereja di Jawa Timur dan Jawa Tengah, Dr. Suffridus de Jong  yang juga menulis tentang Jawa; Prof. Dr. Piet Zoetmulder yang meneliti tentang agama di Indonesia, Dr. N.J. Geise yang menulis tentang agama Islam di Badui, Prof. Dr. Lothar Schreiner yang menulis tentang adat dan karya evangelisasi, Harry Parkin yang menulis tentang agama orang Batak, Waldemar StÖhr yang menulis tentang ide ketuhanan di kalangan suku Dayak Ngaju di Kalimantan Selatan dan masih banyak lagi peneliti dari luar dan dari Indonesia sendiri yang meneliti tentang agama dan budaya yang berbeda dengan agama yang dianutinya. Penelitian-penelitian ini dimaksudkan untuk mendapatkan “pengertian yang mendalam” tentang agama lain, bukan untuk maksud dominasi. Dengan memiliki pengertian yang mendalam itu, komunikasi yang baik antar sesama penganut agama bisa berjalan dengan baik pula.

[21] Ibid., hal. 94-97.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *